Posts from the ‘Ibu’ Category

Cintai Bunda, Yuk!


Keisha (bukan nama sebenarnya) sebel banget ama bundanya. Gimana nggak sebel coba, bunda nyita hape kesayangan Kei. Gara-garanya, duit jajan jatah sebulan ternyata abis cuma buat beli pulsa terus uang SPP ditilep juga supaya tetep bisa jajan. Udahlah hape disita, bunda nyap-nyap tekdung tralala ngomelin Keisha. Keisha pun ngambek en ogah teguran ama bundanya.

Beda lagi ama Rio (lagi-lagi bukan nama sebenarnya nih). Doi seneng banget ngegodain cewek, hobinya ngelaba bahkan kadang lebih dari itu (waoow… maksudnya?). Ya sampe seks bebas gitu deh. Bundanya Rio ampe dibikin pusing tujuh keliling waktu ada cewek yang dateng dikawal kedua ortunya minta pertanggungjawaban Rio. Bundanya Rio ampe shock banget deh. Ampe pusing kok sampe punya anak lelaki kayak begitu. Emang salah apa ya waktu mengandung Rio?? Perasaan nggak ada ngidam yang aneh-aneh deh… kayak minta ketemu ama Ariel ‘Peterpan’ gitu (Heh? Kapan lahirnya kalo ngidam minta ketemu Ariel?)

Kalo Rini (ini nama adeknya temen saya. Pinjem namanya ya, Rin !). Dia minder alias rendah diri berhubung bundanya cuma dagang sayur-mayur plus ikan basah dengan buka warung di depan rumah. “Gengsi dong punya bunda kok karirnya dagang sayur …? “, gitu batin Rini. Jadi kalo bundanya ada repot terus Rini dimintain bantuan buat jaga warung dan melayani pembeli pasti ada aja alesannya. Sakit perutlah, kerja kelompoklah, ada kegiatan ekskul lah.? Segambreng deh alesannya, demi gengsi gitu. Yee..masih untung Rin, bundanya jualan sayur-mayur coba kalo jualan narkoba, baru deh boleh gengsi!

Nah, tragis lagi nasib Nina (maaf, bukan nama sebenarnya juga tuh). Usut punya usut ternyata doi ditinggal sang bunda begitu aja dalem sebuah kardus di emperan jalan.? Beruntung ada yang bersimpati kepada Nina dan mengasuhnya sebagai anak. Sampai sekarang Nina geram banget kalo liat juga baca berita-berita tentang bayi yang dibuang oleh ortu mereka. Nina geram ama bundanya yang udah tega banget ngebuang dia di emperan jalan. Apa Nina harus ngehormatin bundanya itu? Baca Selengkapnya

Iklan

JIHAD IBU


Oleh: Siti Yuliati

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap jerih payah istri di rumah sama nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pada dasarnya, Islam telah memberikan keistimewaan kepada para istri untuk tetap berada di rumahnya. Untuk mendapatkan surgaNya kelak, para istri cukup berjuang di rumah tangganya dengan ikhlas. Tetesan keringat mereka di dapur dinilai sama dengan darah mujahid di medan perang.

Menjadi ibu rumah tangga kedengarannya memang sepele dan remeh, hanya berkecimpung dengan urusan dari A-Z, namun siapa sangka banyak sekali kebaikan dan hikmah yang dapat diperoleh. Ibulah  yang mengambil porsi terbesar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Pertumbuhan suatu generasi bangsa pertama kai berada di buaian para ibu. Di tangan ibu pula pendidikan anak ditamankan dari usia dini, dan berkat keuletan dan ketulusan ibu jualah bermunculan generasi-generasi berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

Dalam Islam, ini adalah tugas besar, namun sangat mulia dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sayangnya, kebanyakan wanita modern saat ini tidak menyukai aktivitas rumah tangga. Mereka lebih bangga bekerja di luar rumah karena beranggapan tinggal di rumah identik dengan ketidakmandirian dan ketidak berdayaan ekonomi. Maka, jadilah peran ibu rumah tangga dianggap rendah, dan tidak sedikit ibu rumah tangga yang malu-malu ketika ditanya apa pekerjaannya.

Meskipun seorang wanita tidak bekerja setelah lulus sarjana, ilmunya tidak akan sia-sia, sebab ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Kebiasaan berpikir ilmiah yang ia dapatkan dari proses belajar di bangku kuliah itulah yang akan membedakannya dalam mendidik anak.

Seorang ibu memang harus cerdas dan berkualitas, sebab kewajiban mengurus anak tidak sebatas memberi makan. Ia harus mampu merawat dan mendidik anak-anaknya dengan benar, penuh kasih sayang, kesabaran, menempanya dengan nilai dan norma agama agar sang anak mampu menghindar dari pengaruh lingkungan dan kemajuan teknologi yang merusak akal dan kemajuan teknologi yang merusak akal dan akhlaknya. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh seorang ibu yang cerdas.

Sumber : http://hikmah08.multiply.com

Kasih Sayang Ibu…


oleh : Royani Tauhid

“Cucianmu sudah ibu cuci, Ni!” Kata ibuku ketika aku baru saja sampai di rumah. Aku segera beranjak memasuki kamarku dan melihat tempat cucian kotorku sudah kosong. Ah ibu, aku berusaha pulang cepat hari ini agar aku bisa mencuci baju-baju kotorku. ”Ibu tahu, kamu pasti lelah”. Aku hanya bisa tersenyum memandangi wajah renta ibuku.Diusianya yang lewat setengah abad, ibuku termasuk wanita yang sehat. Beliau masih mampu mencuci baju semua anggota keluarga. Bukan berarti kami malas mengerjakannya tapi karena ibuku punya kebiasaan unik yaitu tidak bisa melihat barang-barang kotor. Tangannya langsung bergerak membereskan apa saja yang tidak sedap dipandang.

“Apa ibu nggak cape jika tiap hari selalu beres-beres, aku menggaji orang saja ya biar ibu bisa istirahat” kataku suatu hari. Ibu memandangku, ”Kamu nggak suka ya kalau bajumu ibu cucikan”. ”Aku sayang sama ibu, aku nggak tega melihat ibu bekerja keras tiap hari”, aku berusaha membujuknya untuk menerima saranku. ”Ibu senang kalau diusia ibu sekarang, ibu masih mampu mengurusmu, mencucikan pakaianmu dan adikmu atau menyiapkan sarapanmu tiap pagi”. Yah..aku tak pernah lupa, jika hari libur kantorku hari sabtu dan minggu, ibu selalu menyiapkan nasi goreng daun mengkudu dan telor ceplok kesukaanku.

Aku ingat sebuah pepatah ”Seorang ibu bisa mengurus sepuluh orang anak, tapi sepuluh orang anak belum tentu mampu mengurus seorang ibu” . Aku termenung sendirian dikamarku, diusiaku yang beranjak dewasa, aku merasa belum pernah sekalipun membahagiakannya. Pernah suatu kali, aku membelikan pakaian untuknya, tapi ibuku malah balik bertanya “Kamu sendiri beli nggak? Kalau kamu nggak beli, baju ini untuk kamu saja. Baju ibu masih banyak kok”, ibuku tak mau menerima. Esoknya aku beli baju lagi agar ibu mau menerima pemberianku.

“Ibu sudah bahagia melihat anak-anak ibu berhasil” kata beliau suatu kali ketika aku menanyakan apa yang bisa aku perbuat untuk membuatnya bahagia. ”Melihat kamu dan kakak-kakakmu bisa mencari uang sendiri dan kamu bisa rukun dengan saudara-saudaramu, itulah kebahagian ibu” Aku teringat kakak-kakaku, alhamdulillah mereka semua sudah mempunyai penghasilan sendiri, hanya adikku yang masih kuliah.

Kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang hayat . Apapun yang sudah kita buat belum apa-apa dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang telah diberikan pada kita.Ya Alloh , curahkan kasih sayang-Mu pada kedua orang tuaku, teramat khusus untuk ibu. Allahummaghfirlanaa wali-waalidainaa warhamhumaa kamaa rabbayanii shaghiiraa. Amiin

Untuk Ibunda tercinta, I always love you.

Yuk, “Ngintip” Baby di Perut Ibu


Majalah Girlie Zone

Pertumbuhan Janin di Trimester Pertama

Kalian mungkin bingung ya, kok ada istilah trimester pertama, ke-2, dan ke-3. Gini nih teman-teman, sebenernya pembagian tahapan usia kehamilan menjadi 3 trimester pada dasarnya bertujuan membantu mengelompokan waktu perkembangan sehingga mudah untuk mempelajari proses fisiologis pembentukan janin. Kehamilan itu kan berlangsung selama 9 bulan tuh. Trimester pertama, berarti kehamilan pada 3 bulan pertama atau berarti usia kandungan antara 1 mpe 3 bulan. Kalau trimester kedua berarti usia kandungan antara 4-6 bulan. Nah, trimester ketiga berarti usia kandungan…. Itung sendiri deh,, ssstt gak boleh nyontek!

Pada trimester pertama ini merupakan waktu pembentukan sekaligus perkembangan pesat dari semua sistem dan organ tubuh bayi. Pada saat inilah dimulai keajaiban kuasa Sang Khalik. Sebuah sel telur yang telah dibuahi berubah menjadi organisme yang secara anatomis memliki wujud manusia.

Meski masih hidup secara sel, semua cikal bakal organ penting janin terbentuk di trimester ini. Sayangnya, pada trimester ini pun sangat rawan terhadap kemungkinan terjadi kecacatan fatal. So, kudu ati-ati ngejaga kandungan! Trus, kira-kira gimana sih bentuk kita waktu masih di perut bunda? Nih, Girlie Zone punya contekannya.

Baca Selengkapnya