Posts from the ‘Sex Education’ Category

Kok Bisa Hamil Sih?


Ada remaja puteri yang menyangka kalo abis ”begituan” terus loncat-loncat nanti sperma si cowok keluar lagi. Eh, nggak tahunya hamil juga. Kok bisa ya?

Nggak seru dong kalo langsung ngomongin kehamilan, kita perlu mengetahui terlebih dulu tentang organ reproduksi. Nah, organ reproduksi inilah yang akan berperan dalam proses kehamilan. Organ reproduksi itu berbeda antara pria dan wanita, lho. Organ reproduksi wanita terdiri atas organ dalam dan organ luar. Organ dalam di antaranya adalah indung telur yang terhubung dengan rahim oleh saluran fallopii, dan vagina. Pada wanita terdapat dua indung telur alias ovarium yang bertugas memproduksi sel telur. Oya, dalam organ yang ukurannya sebesar ibu jari itu terdapat kira-kira 100 ribu sel bakal telur. Setiap bulan akan dikeluarkan satu atau dua sel telur yang matang, yang siap dibuahi oleh sperma.

Dinding rahim sudah mempersiapkan dirinya untuk menjadi tempat menempelnya sel yang sudah dibuahi. Bila tidak terjadi pembuahan, maka lapisan dinding rahim akan luruh dalam bentuk perdarahan yang kita kenal sebagai menstruasi. Maka, bila terjadi pembuahan, maka tidak akan menstruasi. Hamil deh.

Baca Selengkapnya

Save Sex? No Free Sex!


Pernah mendapat pembagian kondom gratis? Syukurlah kalo belum. Kalo pun di antara kamu sudah ada yang pernah didatangi aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) tertentu dan mereka membagikan kondom gratis, waspadalah! Karena ini adalah kampanye ajakan untuk menjadi penganut paham free sex, meski terselubung.

Awal-awalnya mereka ini menamakan dirinya gerakan peduli AIDS dan memberi kondom gratis untuk menekan angka pengidap virus HIV. Tapi sesungguhnya jika kamu jeli, pasti muncul pertanyaan: “ngapain juga pake kondom untuk menghindari AIDS?” Sedangkan di banyak penelitian dibuktikan bahwa besar virus HIV itu lebih kecil daripada pori-pori yang terdapat pada kondom. Kondom (yang terbuat dari bahan lateks) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang. Sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori mencapai 10 kali. Sementara virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Jadi jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa lolos melalui pori-pori kondom. Intinya, tak ada jaminan dengan memakai kondom, para pelaku free sex bisa bebas dari penyakit AIDS.

Ujung-ujungnya dari kampanye ini adalah ‘ajakan’ untuk sama-sama menikmati free sex tanpa takut terkena penyakit kelamin. Apa coba makna dibagikannya kondom gratis kepada para pelajar kecuali untuk digunakan? Alih-alih menyadarkan remaja untuk menghindari free sex, pembagian kondom gratis ini malah semakin memicu daya ingin tahu remaja tentang seks itu sendiri. Apalagi dikomporin dengan kondom di depan mata. Remaja lemah iman sudah pasti tergiur ingin mencobanya. Naudzubillah.

So, untuk jaga-jaga buat kamu semua, mending juga baca topik gaulislam edisi ini supaya tambah cerdas dalam mengkritisi kampanye save sex dengan kondom. Lanjuuttt!

No free lunch

Maksudnya tidak ada barang gratis di dunia kapitalis sekarang ini. Begitu juga dengan pembagian kondom yang katanya gratis untuk mendapatkan seks yang aman. Pembagian ini pada permukaannya memang terlihat gratis karena dibagikan secara cuma-cuma tanpa membayar serupiah pun. Namun pada kenyataannya, bila kita jeli menyikapi situasi, kondom ini sesungguhnya tidak gratis sama sekali.

Pelajar SMA dan para mahasiswa yang notabene masih sangat muda dan polos, bisa terpancing rasa ingin tahunya dengan pembagian kondom ini. Bukan mustahil mereka akan coba-coba menggunakannya dengan melakukan sex before married alias berzina. Bisa dengan (maaf) pelacur yang saat ini banting harga karena banyak pesaing, atau bahkan dengan pacarnya sendiri.

Percobaan pertama memakai kondom gratisan. Namun bila ketagihan, maka mau tidak mau mereka akan membeli kondom baru sebagai gantinya. Modus ini mirip sekali dengan pemakaian narkoba yang memberi pancingan gratis di awal pemakaian. Dan bila sudah ketagihan, maka si pengedar menangguk untung dari si pecandu itu. Nggak bisa nggak, produsen kondomlah yang diuntungkan dari kampanye save sex dengan kondom. Sangat khas ciri masyarakat kapitalis.

Itu di satu pihak. Di pihak lain, ada sesuatu yang tersembunyi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar memberi keuntungan kepada produsen kondom.

Yup, perusakan generasi, inilah tujuan sebenarnya dari kampanye free sex dengan kondom. Entah para aktivis kampanye itu yang memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa pemakaian kondom sangatlah tidak efektif untuk mencegah penyakit AIDS. So, masih selalu terbuka peluang bagi siapa pun yang melakukan free sex, meski sudah memakai kondom, untuk terjangkit penyakit yang hingga saat ini belum ada penangkalnya itu.

Sobat muda, save sex dengan kondom hanya sebuah tameng untuk ajakan free sex alias berzina yang mendapat legalitas atau ijin resmi. Dengan memakai kondom, seolah ingin dikatakan “Jangan takut melakukan free sex. Nggak perlu nikah dulu untuk bisa melakukan seks. Nggak perlu takut kena penyakit kelamin atau AIDS. Kan sudah pake kondom.”

Yang cowok jadi merasa tenang dan damai melakukan seks bebas karena selain slogan save sex tadi, mereka juga tidak takut pacarnya akan hamil di luar nikah. Sedangkan bagi yang cewek juga sama saja. Kondom menjadi alat pembenar untuk melakukan seks dengan pacar karena risiko hamil jadi kecil. Yang terjadi adalah rusaknya generasi baik-baik menjadi sekumpulan generasi hobi berzina di masyakarat yang memang sudah sakit ini. Naudzubillah.

Save sex with NO free sex

Bagi kamu yang masih usia belasan tahun saat ini dan duduk di bangku SMP atau SMA, save sex yang baik dan benar adalah dengan NO Free Sex. Belajar aja yang rajin dan ngaji Islam dengan benar supaya kamu tahu bahayanya melakukan free sex. Jangan pernah tergiur nikmat sesaat tapi terlaknat sepanjang hayat. Rugi di dunia karena kamu sudah merusak harga diri dan kesucianmu, merana di akhirat karena berzina termasuk salah satu dari dosa besar yang ending-nya berakhir di neraka yang panas mendidih. Hiiii

Baca Selengkapnya

Sex Education, TABU?


Majalah Gizone edisi 16, Juli 2010

Gea membuka-buka buku supertebal yang tergeletak di meja belajar kamar Lista. Matanya berkenyit melihat gambar-gambar berwarna yang terpajang sangat jelas. Beberapa kali ia menghembuskan napas, geleng-geleng kepala, takjub. Zoli yang melihat tingkah sobatnya itu mendekat.

“Ada apa sih… aaww.. kyaaaa! Gea, tak kusangka cewek sealim kamu, ternyata suka gambar porno!” teriaknya, kaget bin bingung.

“Ih, porno katamu?” Gea manyun. “Ini gambar alat-alat reproduksi kita, Non! Kan di sekolah kita juga belajar seperti ini.”

“Iya sih.. tapi kok rasanya aneh ya ngelihat organ-organ yang pribadi dipajang demikian vulgar?” Zoli garuk-garuk kepala. “Ini buku siapa sih?”

“Bukunya kak Glen, itu Atlas of Human Anatomy, Sobotta. Anak kedokteran rata-rata punya.”

“Jadi bukan buku porna ya?” Tanya Zoli.

“Enak aja! Abangku itu cowok paling alim sedunia, tahuuu!” sungut Lista, bibirnya monyong, lebay. “Mana mungkin nyimpen gambar porno. Lagipula, pendapat kamu kok kuno banget, sih! Sebagai manusia, kita itu disuruh untuk mengetahui apa-apa aja yang terjadi pada diri kita sendiri. Termasuk sistem reproduksi. So, belajar soal seks aku kira bukan sesuatu yang porno.”

Baca Selengkapnya